Bilik shytUrtle: Diary Melawan Anxie #6

04:35



Bilik shytUrtle: Diary Melawan Anxie #6

Posting terakhir: 28 September 2016.
Update kondisi dari 29 September - 03 Oktober 2016.

Sebentar! Tiba-tiba aku lupa. Lupa detail aktifitas dan kondisi pada hari Kamis.
Kamis, 29 September 2016.

Masih puasa dalam rangka membayar hutang Ramadhan. Tapi lupa, pagi itu apakah minum Ranitidine setelah makan sahur atau nggak. Trus juga lupa kondisi tubuh kayak gimana. Kayaknya sih lagi stres sama urusan kerjaan. Jadi mungkin ada sensasi yang muncul, tapi maaf aku lupa detailnya. Lanjut ke next day aja ya.


Jum'at, 30 September 2016.

Seminggu berpuasa dalam rangka membayar hutang puasa Ramadhan, puasa pada hari Jum'at-lah yang ujiannya paling berat. Saking beratnya aku sampai memutuskan untuk minta izin pulang pada pukul sebelas siang. My body udah nggak mau kompromi, jadi ya aku nyerah.

Setelah makan sahur, tubuh terasa 'enakan'. Aku ajak ngobrol, aku bujuk untuk nggak minum Ranitidine. Ok! Akhirnya nggak minum Ranitidine karena situasinya sangat kondusif.

Sampai pada setelah mandi pagi, kondisi tubuh masih pada fase angel. Berangkatlah kerja dengan perasaan riang.

Dan ujian itu datang. Pundak kanan tiba-tiba terasa sakit sampai ke punggung. Rasa mual juga ikutan muncul. Berusaha cuekin. Tetep berjemur, tetep olah raga. Karena udah aku pijit sendiri rasa sakitnya nggak kunjung reda, aku memutuskan terapi pakai bantal elektrik pada punggung dan kaki. Kaki beres, sakitnya ilang. Tapi punggung, tetep. Hiks! (TT.TT)
Terus aku pijit-pijit pundak sama punggung yang sakit. Bisa sendawa, tapi sakitnya nggak kunjung reda. Malah menjalar sampai ke kepala bagian kanan. Kalau jalan sampai kepala miring ke kanan.

Dan akhirnya, aku pun menyerah. Pukul sebelas siang izin pulang. Nyampek kamar langsung rebahan, menutup wajah dengan bantal. Berusaha rileks, berusaha terlelap. Entahlah. Aku pikir tidur adalah jalan keluar yang tepat.

Setelah bisa terlelap selama lima belas menit, rasa sakit di kepala berkurang. Yang tersisa hanya rasa lemes. Segera berjanji pada diri sendiri; nanti kalau buka puasa, minum air putih banyak-banyak.

Air putih memang amazing. Banyak membantu.


Sabtu, 1 Oktober 2016.

"Kalau masih nggak enak badan, jangan kerja dulu. Ojo ngoyo-ngoyo." Pesan Ibu waktu aku bangun tidur.

Selama masih bisa diajak kompromi, aku nggak mau manjain badan. Jadi hari Sabtu itu masih melanjutkan misi membayar hutang puasa, plus lanjut kerja. Setelah makan sahur, minum Ranitidine. Lebih baik mencegah, gitu aja sih.

Bismillah. Tanggal satu, bulan baru. Semangat!

Hari Sabtu di kerjaan emang kadang suka beda sama di tempat lain. Sibuk bener, walau weekend. Bahkan mendekati jam pulang, tukang servis mesin dateng. Jadi harus nemenin sampai kelar.

Di sini beban (urusan kerjaan) sedikit terangkat. Tuhan Maha Asik. Tuhan Maha Keren. Tuhan Maha Baik.

Lega. Saking senangnya sampai nangis. Alhamdulillah. Aku pun pulang dengan rasa ringan.
Makin seneng ketika nyampek rumah, tahu ada kiriman air degan ijo. Alhamdulillah. Makin perfect dah akhir pekanku walau jomblo. #ups

Air degan ijonya buat netralin rasa sakit yang muncul di hari Jum'at. And it work! Amazing, ya!


Minggu, 02 Oktober 2016.

Hari Minggu tiba juga. Kalau dulu nurutin keinginan buat ngebangke, tapi sekarang nggak. Karena tubuh udah punya jam biologis sendiri, jadi aku nggak mau ngrusak jam biologis itu. Jadi ketika terbangun pada jam bangun tidur pagi, aku tidak menolaknya dengan kembali tidur atau malas-malasan di atas ranjang.

Aku bangun dan melakukan rutinitas seperti hari kerja pada hari Senin-Sabtu. Setelah semua rutinitas selesai, (karena males jalan pagi ---ini jangan ditiru), terus bergerak melakukan apa saja. Membantu ibu memasak, misalnya. Pokoknya keep on moving. Males-malesannya ntar aja. Ditunda dulu. Hehehe.

Kebetulan hari Minggu ini punya jadwal 'melatih diri'. Jadi udah bikin rencana main ke Candi Jago. Itulah kenapa aku menyibukan diri dari bangun tidur. Tujuannya untuk mengalihkan pikiran. Karena, biasanya kalau punya rencana pergi dan aku harus nyetir motor sendiri, akan muncul beberapa sensasi. Yang paling sering; kepala pusing dan kliyengan. Makanya aku terus bergerak, menyibukan diri dengan membantu ibu di dapur. Kebetulan kami akan membuat bumbu rawon. Jadi, banyak bumbu yang harus dikupas. Aku kebagian kupas bawang merah, bawang putih, dan bawang daun.

Ngumpul di dapur, ngupas bumbu sama ibu dan nenek, sambil ngobrol dan kadang bercanda beneran ampuh buat ngalihin pikiran. Aku sama nenek ngupas bumbu, ibu masak cah brokoli.
Karena ada rencana keluar melatih diri, aku sengaja libur sarapan buah. Itu pertama kalinya aku keluar nyetir motor sendiri setelah serangan panik terakhir. Jadi aku harus benar-benar mempersiapkan fisik dan mental.

Persiapan fisiknya, aku harus sarapan dengan menu lengkap. Perutku harus terisi agar tenang dan nggak bikin rese XD

Cah brokoli setengah matangnya jadi. Aku mengambil tiga sendok makan nasi, lalu banyakin cah brokolinya (yang sebenernya berisi brokoli, wortel, sawi putih/sipu, dan kubis). Sampai-sampai Nenek berkomentar, "Kamu itu makan nasi apa makan sayur? Nasi seiprit gitu mana kenyang."
Hehehe. Nasi tiga sendok itu udah banyak lho. Kalaupun nekat ditambahin, perut bisa penuh. Nggak enak rasanya sesudah makan. Tapi kenapa badan tetep gede walau makannya dikit? Entahlah. Mungkin bawakan orok XD

Lauknya tahu sama tempe. Kami sarapan bersama.
Menengok jam. Makin dekat pada waktu perjanjian. Melihat aku mulai gusar, Nenek berkomentar, "Kenapa kok liatin jam terus?"
"Mau keluar, Nek." Jawabku.
"Oh. Sama sapa?"
"Sendiri."
"Sendirian? Berani?"
"Inshaa ALLOH. Keluar deket aja kok."
"Hmmm... ya, ya. Udah mandi?"
"Hehehe. Ntar siang aja mandinya." (Bagian ini bukan termasuk persiapan lahir dan batin untuk uji nyali. Tapi emang kalau libur nggak kerja, aku males mandi pagi. Hahaha. Jangan ditiru ini ya!)

Setengah jam setelah sarapan, ambil wudlu, lalu siap-siap. Semprot parfum sana-sini (karena belum mandi), balurin perut, punggung, dan telapak kaki dengan minyak kayu putih (ini termasuk persiapan fisik dan mental). Untuk kostum milih pakek celana panjang, karena pengalaman ngalas sebelumnya pakek celana selutut, aku malah digigit serangga (yang katanya tomcat). Jadi milih pakek celana panjang walau tujuannya ke candi, bukan ngalas. Bisa jadi di candi ntar ada serangga usil lagi. Jadi lebih baik mencegah.

Kaos, celana panjang, hoodie tanpa resleting dan kupluk. Tas berisi peralatan tempur: air mineral, minyak kayu putih, safe care, counter pain, pocket camera, tas obat. I'm ready! Lalu, kepalaku pusing. Kliyengan. Damn!

Menatap helm yang juga udah siap di samping tas, membuat tanganku gemetaran. Ya ampun! Apakah helm semengerikan itu?

Merebahkan diri. Tarik napas, buang napas. Rileks. Aku kuat! Aku sehat secara fisik dan mental! Aku pasti bisa!

Kembali duduk. Menghembuskan napas panjang dan meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa. Lalu menyambar tas dan helm, pamit ke ibu-bapak, baca bismillah tujuh kali tahan napas, baca ayat Kursi, dan berangkat.

Ortu kasih izin pergi, karena aku bilang aku pergi dengan seorang teman (tapi beliau berdua tidak tahu kalau patnerku hari ini adalah orang yang nggak bisa nyetir) dan aku berjanji akan telfon jika aku tak kuat atau terjadi sesuatu.

Milih patner yang nggak bisa nyetir motor karena tujuannya adalah 'melatih diri'. Kalau patnernya bisa nyetir juga, nggak nutup kemungkinan aku jadi manja dan minta dia nyetirin. Jadi udah membulatkan tekad ngajak temen yang nggak bisa nyetir. Jadi, nanti aku harus berusaha dengan kemampuanku sendiri. Aku nggak mau lagi ngalah sama rasa takut yang entah datangnya dari mana.

Tiba di tempat janjian (di gang kuburan), patnerku belum datang. Nggak ada tempat teduh di sana. Jadilah aku duduk di atas motor sambil berjemur. Nggak papalah. Itung-itung pagi tadi belum berjemur. Jam menunjukan pukul delapan lebih. Daripada manyun, aku mengeluarkan pocket camera dan mulai mempersiapkannya: mengatur mode potret dll.

Tak lama kemudian, my patner datang. Kami berdua langsung meluncur menuju lokasi pertama yaitu Candi Jago. Hari ini ada empat lokasi yang harus dikunjungi buat diabadikan dalam foto.
Alhamdulillah nyampek lokasi pertama, Candi Jago dengan selamat. Walau masih pukul setengah sembilan pagi, cukup terik di area candi. Tahu kah Anda apa yang terjadi setelah aku memarkirkan motor? Yap, benar! Kedua tanganku gemetaran hebat. I don't know why. Padahal selama nyetir, aku nyantai banget.

Nyari tempat duduk, yang teduh udah pada penuh. Akhirnya duduk di pinggir toilet, menyelonjorkan kaki, dan menggerak-gerakan kedua tangan yang masih gemetaran. Tak lupa segera meneguk air putih banyak-banyak untuk menetralisir.

Selagi aku duduk menetralisir kondisi tubuhku, patnerku mulai beraksi dengan pocket camera, mengambil foto bagian belakang Candi Jago. Posisi kami memang tepat di belakang candi.

Saat aku lagi serius latihan pernapasan buat nenangin diri, meredam tangan gemetaran, Mbak Maimun (patnerku) menghampiri dan berbisik, "Itu orang yang di atas candi motoin kamu mulu!"

Refleks aku langsung menatap ke arah puncak candi. Dan ya, seseorang yang sedang di atas sana menyorotkan kamera ponselnya pada kami. Mungkin posisiku yang sedang menenangkan diri bagus untuk diabadikan. Terima kasih. Aku pun mengalihkan pandangan dan melanjutkan prosesi menenangkan diri. FYI, orang yang di atas candi itu cowok (penting banget kah ini sampai ditulis juga??).

Setelah tanganku tak gemeteran lagi, aku dan Mbak Maimun memutuskan berkeliling. Area candi nggak terlalu luas, jadi nggak bakalan capek jalan-jalan di sana. Kendalanya cuman panas.

Selesai mengambil beberapa foto pada bagian depan dan sekitar candi, Mbak Maimun mengajakku naik ke atas candi. Langkahku terhenti tepat di depan tangga. Tangga yang tak begitu tinggi tapi entah kenapa membuat nyaliku tiba-tiba menciut. Aku diam dan menatapnya.

"Kenapa?" Tanya Mbak Maimun.
Aku menggeleng, lalu mengucap bismillah dan mulai menaiki tangga.

Sampai di tingkat pertama candi. Aku lega. Tapi ketika mendapati kotak-kotak batu yang tak rapat, mulai goyah lagi. Entah kenapa petak-petak itu terlihat mengerikan. Aku mengalihkan pandangan dan berjalan mendekati tangga kedua, tapi kembali berhenti jarak satu langkah di depannya.

Tangga itu memiliki tembok di sisi kanan dan kirinya. Entah kenapa aku bergidik menatapnya dan ragu untuk menapakinya. Rasanya ingin merangkak turun saja. Ketika aku mengerjapkan mata dan mengamati sekitar, orang-orang sudah mengamatiku. Aku menelan ludah, tersenyum kikuk, lalu mulai menaiki tangga. Kedua tanganku menyentuh tembok di samping kanan dan kiri tangga.

Sampai di tingkat kedua, suasana lebih ramai dan terik. Ketika aku menengok ke tepian, kakiku langsung gemetar. Tinggi sekali! Aku menepi ke bagian yang teduh dan menenangkan diri di sana. Seorang gadis yang sedang melakukan penelitian tersenyum padaku dan mengatakan pada sisi ini, terlebih di sisi timur memang sangar terjal. Ok! Cukup! Aku duduk di sini saja.

Setelah duduk cukup lama, aku teringat pada bagian belakang candi yang dulu memiliki terowongan tapi telah di tutup. Aku menghampiri Mbak Maimun (yang masih saja sibuk dengan pocket camera) dan memberi tahunya tentang posisi pintu terowongan itu.

Aku menengok puncak candi yang berada di tingkat tiga, ramai. Rasanya aku tak sanggup untuk mendaki ke sana. Aku berjalan ke sisi kanan candi, mencari jalan untuk sampai ke posisi pintu terowongan.

Aku memaksa diriku untuk tidak menengok ke bawah dan mulai memanjat. Aku menemukannya! Hurray! Aku menemukan pintu terowongan. Walau masih tertutup rapat seperti ketika aku terakhir berkunjung kemari saat kelas enam SD. Berapa puluh tahun yang lalu itu. Hehehe.
Setelah menunjukan posisi pintu terowongan, aku meninggalkan Mbak Maimun untuk memotret. 
Aku balik ke sisi kanan candi, duduk di sana sambil memegang erat bagian pojok candi. Aku tak ingin menatap jalan raya di bawah sana, tapi aku tergoda juga. Aku menatapnya. Hal itu membuatku semakin erat memegang pojokan candi. Dan pose ini diabadikan dalam foto sama Mbak Maimun (-__-")!

"U, kamu pucet banget. Kamu nggak papa?" Tanya Mbak Maimun.
"Nggak. Nggak papa. Aku baik-baik aja." Kilahku.
Aku kembali meneguk air putih. Lalu melepas hoodie dan kaos kakiku.
"Kenapa dilepas?" Tanya Mbak Maimun sambil memperhatikan tingkahku.
"Mulai nggak nyaman. Katanya, kalau udah merasa nggak nyaman, harus melepas apapun itu yang bikin nggak nyaman." aku mengikat hoodie di pinggangku dan memasukan kaos kaki ke dalam tas.
"Begitu lebih baik."
"Yap, benar!"

Setelah membuang apa yang membuatku mulai merasa nggak nyaman, aku merasa lebih baik. Bahkan, aku bisa mengambil beberapa gambar dari pocket camera yang sebelumnya aku pasrahkan pada Mbak Maimun.

Saat turun, aku pun bisa melewati tangga yang sebelumnya aku pikir seperti lorong hantu. Bahkan; berpose di atas batu kotak-kotak yang saat naik tadi aku beri nilai 'mengerikan'. Kami nggak ke puncak candi karena sangat ramai di atas sana. Apalagi semakin terik, jadi kami memilih turun dan duduk melepas lelah di atas sebuah bangku kayu di bawah entah pohon apa yang sedang berbunga lebat berwarna kuning. Cantik sekali.

Saat puncak sepi, Mbak Maimun mengajakku untuk kembali naik. Aku menolak. Aku bilang aku tak sanggup. Hehehe.


Lanjut ke lokasi kedua: Taman Makam Pahlawan. Sampai di sini volume getaran pada tangan setelah memarkirkan motor berkurang.

Tiba di lokasi ketiga: lapangan. Volume getaran pada tangan semakin berkurang.

Tiba di lokasi keempat: Indomart. Getaran itu sudah hilang. Sama sekali nggak gemetar usai memarkirkan motor. Aku pun bergegas masuk untuk membayar tagihan BPJS. Meninggalkan Mbak Maimun di luar.

Aku keluar dan duduk di kursi yang disediakan di depan Indomart, sambil mencari sosok Mbak Maimun yang ternyata ada di dekat warung tenda. Setelah melihatku, Mbak Maimun pun menghampiriku.

"Ngapain sampean di sana?" sambutku.
"Ngambil foto," jawabnya singkat.
"Jauh amat?"
"Dari sana bisa kelihatan jelas, semuanya."
"Oh."
Lalu kami mengamati enam ABG berhijab yang bersiap dengan tiga motor matic mereka.
"Anak-anak itu mau naik, U," bisik Mbak Maimun.
"Ke Bromo? Nggak yakin."
"Bukan! Tapi ke Coban Pelangi."
"Mmm. Lalu?"
"Nggak pengen naik juga a? Mumpung keluar."
Aku diam sejenak. Menimbang-nimbang. Melihat langit, lalu bertanya, "Jam berapa sih?"
"Ndak tahu."
Aku merogoh ponsel di saku celanaku. Melihat jam digitalnya. "Ok. Bentar ya, aku cek bensinku dulu."
Aku beralih pada motor untuk mengecek bensin. "Ok! Cukup! Ayo kita naik!"
"Jadi naik? Nggak beli bensin dulu?"
"Nggak usah. Cukup kok buat PP ke Coban Pelangi."
"Nanti kalo nggak cukup dibeliin eceran ya."
"Beres!"


Aku kembali melajukan motorku, bukan untuk pulang. Tapi menuju Coban Pelangi. Perjalanan ini lebih menantang karena jalan menanjak dan melewati hutan pinus. Terakhir nyetir sendiri ke Coban Pelangi tahun 2011 (dan itu ketika aku masih sehat wal afiat, nggak punya takut, nggak ada anxie).

Tidak ada rasa takut atau gugup sepanjang perjalanan menuju Coban Pelangi. Pemandangan alam yang indah di sepanjang jalan mengalihkan perhatian dan pikiranku. Apalagi ketika melihat bunga zinia (kembang kertas) warna-warni yang sedang bermekaran. Subhanallah... indah sekali.

Jalan yang menanjak pun nggak jadi halangan yang berarti. Bisa tetep santai nyetir motornya. Cuman sempet histeris pas liat pohon apel berbunga putih di halaman rumah warga. Hehehe. Aku langsung berteriak, "Woa! Sakura!" Hehehe. Itu refleks! Maaf.

Setelah melewati komplek makam dan rest area, mulai masuk ke jalan yang nggak begitu luas yang kanan-kirinya kebun apel. Lagi-lagi aku histeris melihat kebun apel yang semua pohon apelnya sedang berbunga putih. Sayang kebun itu tertutup pagar rapat. Jadi nggak bisa masuk untuk selca sama pohon apel yang sedang berbunga putih.

Makin ke atas hawa terasa makin dingin. Aku baru sadar kalau kaos kakiku belum tak pakek lagi setelah aku lepas saat di candi. Dan aku baru sadar juga kalau aku nggak pakek masker.
Selain makin dingin, suasana di atas pun berkabut. Mendung pula. Saat hampir sampai di kawasan pintu masuk Coban Pelangi, aku menghentikan motor dan putar balik, lalu berhenti di tepi jalan. Area parkirnya rame, jadi males mau mendekat. Lagian nggak turun juga, jadi ngapain deket-deket ke sana. FYI, untuk sampai ke Coban Pelangi harus jalan kaki, turun ke bawah. Dan itu sangat jauh. Kalau turunnya inshaa ALLOH kuat, tapi balik naiknya itu yang jadi perhitungan. Kesimpulannya: aku belum berani turun ke area air terjun.

"Jadi dari tadi aku nggak pakek masker?" aku menghampiri Mbak Maimun usai memarkir motor di pinggir jalan.
"Aku tadi mbatin, kok tumben nggak pakek masker. Kirain sengaja." Jawab Mbak Maimun.
"Aku lupa berarti. Hehehe."

Emang kalau pakek masker seringnya diplorotin ke dagu, jadi kadang pakek berasa nggak pakek. Jadi gitu deh. Dan aku buru-buru memakai kaos kakiku lagi.

Kami berhenti di beberapa titik untuk mengambil foto. Keajaiban. Aku nggak merasakan sensasi apapun walau hawa sangat dingin. Pusing, nggak! Mual, nggak! Kembung pun nggak. Amazing, kan?

Bahagia memang obat paling mujarab. Andai bahagia itu ada dalam bentuk inhaler ya. Jadi pas drop tinggal hirup aja. So, balik bahagia dan sehat lagi. Hehehe.

Sebelum turun untuk pulang, kami berhenti lagi untuk mengambil foto kebun apel yang sedang berbunga lebat. Karena kebunnya tertutup pagar, kami nggak bisa masuk. Tapi dari posisi kami berada, kami bisa mengambil gambar dengan cara membuat 'mode dekat' atau zoom.

Setelah merubah mode kamera dan menyerahkannya kembali pada Mbak Maimun, aku mendengar ada suara deru kendaraan mendekat. Aku segera berlari ke sisi kiri jalan, berlari ke motorku. Khawatir motorku menghalangi jalan, karena jalannya sempit.

Dan ternyata, di belakang mobil jeep biru itu adalah kawanan trail rider. Aku terngaga dan... terkesima. Hari ini kami pergi untuk mengumpulkan foto lokasi yang ada dalam novel CBKB, dan Tuhan memberi bonus; kami bertemu kawanan trail rider dan berhasil mengabadikan beberapa foto. Amazing! Lengkap sudah dokumentasi kami untuk novel CBKB.

Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita minta. Tapi Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan.


Senin, 03 Oktober 2016.

Kondisi tubuh dalam fase angel. Mungkin karena efek bahagia kemarin yang masih setia nemplok.
Di toko kerjaan full. Nyampek rumah nggak bisa isrtirahat karena harus bantu-bantu persiapan sholawat burdah dan syukuran terbitnya novel CBKB.

Alhamdulillah acara berjalan lancar walau aku tepar di akhir acara. Aku mual parah di akhir acara. Aku menyimpulkan karena kecapekan dan kedinginan aja.


Selasa, 04 Oktober 2016.

Sisa tepar Senin masih terasa. Tapi bisa melaluinya. Pagi selalu menjadi perjuangan berat bagiku. Tidak apa-apa. Aku kuat. Alhamdulillah aku bisa melewatinya.

Malangnya, semalem nekat pergi menembus hawa dingin untuk mencari degan ijo, tapi semua kios yang biasa jual degan ijo tutup. Hiks!


Rabu, 05 Oktober 2016.

Today I feel so much fine. I've got sunshine. I have fun, dancing with kiddo until keringetan. Hehehe.

Mari tetap berbahagia.
Mari tetap terapkan pola hidup sehat.
Mari tetap terapkan pola makan sehat.
Mari tetap banyak-banyak minum air putih.
Mari tetap rajin bermeditasi.
Mari tetap bermanja-manja pada-Nya.
Mari tetap berjuang. Karena, selalu ada keajaiban dalam sebuah perjuangan.


Tempurung kura-kura, Rabu, 05 Oktober 2016, 10.00 AM.
.shytUrtle.




You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews